You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Pakkana
Desa Pakkana

Kec. Tanasitolo, Kab. Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan

Selamat datang di Website Resmi DESA PAKKANNA, Selamat Menikmati Kemudahan Akses Informasi Desa Pakkanna. Hormat saya Wikra Warda, S.Sos (Kepada Desa Pakkanna)

AYO KE PAKKANNA, PUSAT KERAJINAN SUTERA SENGKANG KAB. WAJO

Muhammad Khudri 24 Mei 2023 Dibaca 49 Kali
AYO KE PAKKANNA, PUSAT KERAJINAN SUTERA SENGKANG KAB. WAJO

Terkenal dengan sebutannya yang menjadi kota Sutera, tentu saja Wajo memiliki begitu banyak objek wisata yang berhubungan dengan kain sutera. Desa Sutera Pakanna adalah tempat yang cocok untuk kamu kunjungi, perkampungan tenun yang berlokasi di Desa Pakanna tepatnya pada Kecamatan Tanasitolo. Para wisatawan dapat menyaksikan proses penenunan secara langsung, serta pengolahan benang kain sutera secara bertahap secara tradisional khas Kabupaten Wajo.

Selain itu, pada perkampungan Sutera ini juga terdapat showroom yang menjual berbagai macam kerajinan tenun sutera muali sarung sabbe, lipa lagosi, baju boddo, songkok racca dan begitu banyak produk unggulan lainnya. Sehingga para wisatawan dapat bebas menikmati proses pembuatan sekaligus jangan lupa membeli kain tenun sutera, sebab langsung dari penenun tentu harga yang tidak terlalu menguras kantong. Kenyataannya tidak hanya membeli, wisatawan pun dapat belajar dan terlibat langsung dalam proses pembuatannya. bahkan sudah menjadi rujukan utama para pelajar, peneliti hingga kaum akademik ke kampung ini untuk mendapat referensi langsung tentang Kain Sutera.

Menurut berbagai sumber, termasuk (Bidang KIHI dikutip dari wawancara UMKM Pengrajin Sutera) sebagai berikut :

Kerajinan tenun sutera dari Sengkang tersebut memperkaya budaya dan keragaman di Indonesia. Sutra dalam bahasa lokal (Bugis) disebut “sabbe” yang merupakan hasil kerajinan tenun dan menjadi kebanggaan suku Bugis. Masyarakat masih menggunakannya sebagai pakaian adat mengingat kain tenung Sengkang selain memiliki nilai tradisi dan budaya adat yang digunakan dalam upacara adat, kain tenun Sengkang tersebut juga digunakan sebagai hadiah dan sebagai simbol yang dianggap suci.

Kain tenun Sengkang memiliki makna berbeda-beda, seperti motif Mappagiling yang menurut cerita dibuat oleh seorang wanita yang ditinggalkan oleh suaminya, namun akhirnya suaminya kembali pulang karena melihat motif tersebut yang dibelinya dari seorang pedagang sutera yang menjual kain motif hasil tenunan istrinya. Berbagai macam corak yang diproduksi seperti corak “Balo Tettong”(bergaris atau tegak), corak “Makkulu” (melingkar), corak “Mallo’bang” (berkotak kosong), corak “Balo Renni” (berkotak kecil). Selain itu ada juga diproduksi dengan mengkombinasikan atau menyisipkan “Wennang Sau” (lusi) timbul serta corak “Bali Are” dengan sisipan benang tambahan yang mirip dengan kain Damas.

Disamping itu, susunan warna kain tenun Sengkang memiliki pertimbangan makna tersendiri. Bagi masyarakat Bugis, setiap warna memiliki makna tertentu seperti warna merah yang berarti berani karena benar, putih berarti kesucian, hijau berarti subur dan makmur, dan kuning berarti indah serta mulia. Penggunaan warna juga dikaitkan dengan kejiwaan seseorang, seperti warna hitam dihubungkan dengan suasana kedukaan, warna merah dihubungkan dengan perasaan gembira, dan warna putih dihubungkan dengan kesucian.

Produksi benang sutera menjadi kain kain sutera masyarakat umumnya masih menggunakan peralatan tenun tradisional yaitu alat tenun gedongan. Seiring perkembangan teknologi, mesin pemintal benang otomatis telah digunakan, namun tidak meninggalkan penggunaan peralatan tenun tradisional. Dengan demikian upaya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk memberdayakan tenaga kerja lokal dalam produksi kain tenun masih berjalan hingga saat ini.

Penulis : Khudri

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image